Beranda » Berita » KAPITALISASI PENDIDIKAN

KAPITALISASI PENDIDIKAN

Popuri

My Popularity (by popuri.us)

Arsip

Kategori Tulisan

Kalender

Februari 2011
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

STMIK Pringsewu : mahal dan tidak memadai !!

Kondisi perekonomian yang semakin menurun bahkan tak pernah mengalami peningkatan yang cukup signifikan untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Sama halnya yang terjadi pada sector pendidikan sampai saat ini belum berkualitas bahkan masih sulit untuk di dapatkan oleh masyarakat Indonesia yang kebanyakan berstatus miskin. akibatnya banyak anak putus sekolah dan tidak mampu meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini di sebabkan karna ketidak pedulian (intervensi) pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa saat ini sekolah dan universitas swasta telah mendominasi dibandingkan dengan sekolah atau universitas negri,artinya biaya yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk mendapatkan pendidikan sangat mahal bahkan sulit untuk di jangkau.

Khususnya di STMIK Pringsewu stiap tahunnya banyak mahasiswannya yang mengeluh akan mahalnnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan, meliputi :

a. Tahun 2009 kelas Reguler
• Prodi Sistem Informasi
Uang kemahasiswaan semester 2 (/smstr) Rp. 25000
Biaya persemester Rp. 1. 500.000
• Prodi Manajemen Informatika (D3)
Uang kemahasiswaan semester 2 (/smstr) Rp. 25000
Biaya persemester Rp. 1.350.000

b. Tahun 2010

Klas Eksekutif
• Prodi Sistem Informasi (S1)
Uang Pendaftaran Rp. 200.000
Baiya propti dan almamater Rp. 600.000
Uang bangunan (hanya 1x) Rp. 1.250.000
Biaya persemester Rp. 1.900.000
• Prodi Manajemen Informatika (D3)
Uang Pendaftaran Rp. 200.000
Baiya propti dan almamater Rp. 600.000
Uang bangunan (hanya 1x) Rp. 1.250.000
Biaya persemester Rp. 1.650.000

kelas Reguler
• Prodi Sistem Informasi
Uang Pendaftaran Rp. 200.000
Baiya propti dan almamater Rp. 600.000
Uang bangunan (hanya 1x) Rp. 1.000.000
Biaya persemester Rp. 1. 500.000
• Prodi Manajemen Informatika (D3)
Uang Pendaftaran Rp. 200.000
Baiya propti dan almamater Rp. 600.000
Uang bangunan (hanya 1x) Rp. 1.000.000
Biaya persemester Rp. 1.250.000

Namun dari sekian banyak uang yang harus di keluarkan oleh 1015 siswa tetap saja belum bisa menjawab kualitas akademiknya, sebab fasilitas yang ada kurang memadai. Seperti kurangnnya laboratorium multimedia sehingga saat praktek sering berebutan dengan kelas yang lain, perpustakaan yang kurang memadai, dosen yang belum berkompeten di bidang akademik yang diajarkan kepada mahasiswa serta program studi yang di tempuh dosen setara dengan peserta didik bahkan ada dosen lulusan D3 ngajar mahasiswa S1. Hal ini sangat mempengaruhi kualitas pelayanan pendidikan yang diberikan oleh lembaga tersebut dan juga mempengaruhi kualitas lulusannya nanti.

Selain mendapatkan dana dari mahasiswanya, STMIK Pringsewu juga menjalin hubungan kerja sama dengan KOPERTIS Palembang dan negara FILIPINA sebagai donatur,diperkirakan dana yang didapatkan dari kedua donator ini cukup besar namun tetap saja tidak merubah biaya pendidikan yang sesuai dengan kemampuan ekonomi mahasiswannya.Jumlah dosen yang ada di stmik 2 periode terakhir di Tahun 2010 sejumlah 39 orang,sedangkan di Tahun 2011 ini sejumlah 41 orang.

Kenyataan tersebut hanyalah salah satu realitas dari KPITALISASI PENDIDIKAN yang terjadi di Indonesia dan pemerintah lewat kebijakan politiknya sangat mengamini dan terus mendorong Kapitalisasi Pendidikan.

Untuk diketahui, bahwa anggaran pendidikan yang dialokasikan oleh Pemerintah Tingkat I Provinsi Lampung hanya 8,3% atau 180 M dari total RAPBD Rp. 2,162 triliun. Dari anggaran 180 m tersebut Rp45,28 miliar untuk diklat internal 20 satker di luar Dinas Pendidikan yang dikategorikan anggaran pendidikan dan dikelola oleh setiap satker. Ini merupakan pelanggaran konstitusional yang dilakukan secara berjamaah oleh Rezim SBY sampai pada tingkat bawah. Dalam UU Sisdiknas 2003 mengamanatkan bahwan subsidi pendidikan minimal 20 % dari APBN dan APBD, tapi kenyataannya di Propinsi lampung hanya 8,3%. Politik anggaran yang tidak berpihak pada kepentingan masyarakat yang diambil oleh penguasa saat ini semakin menambah ketidak percayaan masyarakat pada pemerintah dan pemerintah degan jelas mengambil posisi bersebrangan dengan kepentingan rakyat.

Kebijakan-kebijakan seperti ini yang membuka ruang selebar-lebarnya bagi proses kapitalisasi pendidikan di lampung, contohnya STMIK. Lantas siapa yang dikorbankan atas kebijakan itu ? tentu mayoritas rakyat Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan. smipringsewu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: