Beranda » Berita » Mimpi Pendidikan Gratis Sampai Kapan?

Mimpi Pendidikan Gratis Sampai Kapan?

Popuri

My Popularity (by popuri.us)

Arsip

Kategori Tulisan

Kalender

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sekarang merupakan hal yang wajar. Cerita Seorang anak bunuh diri karena tidak mampu membayar sekolah seolah menjadi berita biasa, dan banyak orang tua yang stres soal biaya untuk mencari sekolah baru bagi anaknya, adalah cerita rutin setiap tahun berulang. Patut kita ingat bahwa pendidikan adalah hak azasi setiap manusia untuk mendapatkannya. Karena pada hakikatnya pendidikan adalah hidup, dan hidup itu sendiri juga pendidikan. Saat pemerintah tak mampu memenuhi hak dasar setiap warganya dalam memeroleh pendidikan, berarti bisa dikatakan bahwa negara telah gagal bertanggung jawab atas warganya.

Kegagalan negara dalam mewujudkan pendidikan terjadi dalam berbagai aspek. Mungkin saja akibat belum terealisasinya anggaran pendidikan sebesar 20 % dari APBN/APBD sesuai dengan amanat UUD 1945. Sehingga ini membuat biaya pendidikan semakin melambung, sedangkan kesejahteraan guru belum terpenuhi secara layak, yang menjadikan kualitas pendidikan kita sangat rendah hingga sekarang.

Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan telah memakan banyak korban. Kurikulum yang menjadi rambu-rambu dalam pendidikan nasional sampai kini belum juga menemukan bentuknya.

Pendidikan di negeri ini makin hari kian mahal. Mahalnya biaya pendidikan membuat para orang tua kelimpungan belakangan ini. Musim mencari sekolah baru adalah “masa yang paling tidak enak” terutama di kalangan orang tua berpenghasilan rendah dan miskin. Mereka akan berfikir dua kali untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah, karena biaya pendidikan tinggi selangit

Pendidikan pada dasarnya adalah proses itu sendiri. Bukan hasil seperti yang saat ini diterapkan pemerintah di bidang pendidikan. Penerapan Ujian Nasional (UN) adalah suatu langkah yang tidak tepat, karena yang dijadikan standar kelulusan seorang siswa hanyalah hasil akhir.

Padahal standar hasil yang diterapkan pemerintah dalam kelulusan siswa sekolah pada hakikatnya adalah produk kapitalis. Faham kapitalis selalu menjadikan hasil sebagai sebuah tujuan. ladi, ketika suatu bangsa dikomando para kapitalis, maka yang dikedepankan selalu hasil akhir.

Hanya karena ingin menghemat anggaran belanja negara, yang entail ke mana muaranya, pemerintah dengan begitu tega menaikan harga BBM. Untuk membungkam masyarakat yang resah dan bergejolak karena kenaikan harga BBM, beberapa program penunjang pun dilaksanakan. Mulai dari bantuan langsung tunai (BLT) untuk masyarakat miskin, hingga bantuan pendidikan untuk mahasiswa.

Karena ulah para kapitalis negeri ini, kini pendidikan dijadikan sebagai,sebuah komoditas dagang. Para pengusaha dapat meraup untung sangat besar dari bisnis pendidikan. Hal ini berlaku bagi seluruh instansi pendidikan, baik yang berlabel negeri, swasta, internasional, maupun agama. Mereka selalu melihat keuntungan sangat besar dari bisnis pendidikan.

Pendidikan yang dijadikan bisnis oleh berbagai pihak ini membuatnya kehilangan arah. Proses “memanusiakan manusia” sudah tidak ada lagi dalam kamus pendidikan nasional. Sekolah hanya dijadikan sebagai tempat mencetak buruh yang siap dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan material semata.

Wajah kapitalis juga amat berpengaruh pada kurikulum yang digunakan dalam pendidikan. Sehingga jangan berharap muncul pendidikan gratis selama di negeri ini masih mempertahankan faham kapitalis, yang bertujuan hanya mencari keuntungan dari dunia pendidikan kita.*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: