Beranda » Artikel » 60 % Harga Minyak Dunia Saat Ini Adalah Spekulasi

60 % Harga Minyak Dunia Saat Ini Adalah Spekulasi

Popuri

My Popularity (by popuri.us)

Arsip

Kategori Tulisan

Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Nov   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Oleh F. William Engdahl

Harga minyak mentah saat ini tidak ditentukan berdasarkan hubungan tradisional persediaan dan permintaan. Ia dikontrol oleh suatu sistem pasar finansial yang kompleks maupun oleh empat perusahaan minyak Anglo-Amerika yang terbesar. Sebesar 60% harga minyak mentah dunia saat ini adalah murni spekulasi yang dilakukan oleh bank-bank dagang yang besar dan pengelola investasi global (hedge funds). Ini sama sekali bukan disebabkan oleh mitos gampangan Puncak Minyak. Ini disebabkan oleh kontrol terhadap minyak dan harganya. Bagaimana?

Pertama, peran krusial pertukaran minyak internasional di London dan New York adalah krusial bagi permainan ini. Nymex di New York dan ICE Futures di London kini mengontrol patokan (benchmark) harga minyak yang kemudian menetapkan harga kargo minyak yang diperdagangkan dengan bebas. Mereka melakukan itu via kontrak saham-saham future minyak untuk dua kelas minyak mentah – West Texas Intermediate dan North Sea Brent.

Tempat Pertukaran minyak ketiga yang cukup baru, Dubai Mercantile Exchange (DME) memperdagangkan minyak mentah Dubai, kurang lebih saudaranya Nymex, dengan Presiden Nymex, James Newsome, duduk dalam jajaran pimpinan DME dan banyak personil kuncinya merupakan warga Inggris atau Amerika.

Brent digunakan dalam kontrak seketika (spot) dan jangka panjang (long-term) untuk menilai jumlah minyak mentah yang diproduksi dalam pasar minyak global tiap harinya. Harga Brent dipublikasikan oleh sebuah penerbitan industri minyak swasta, Platt’s. Produsen minyak utama termasuk Rusia dan Nigeria menggunakan Brent sebagai patokan dalam menetapkan harga minyak mentah yang mereka produksi. Brent adalah campuran minyak mentah yang menjadi kunci bagi pasar Eropa dan, dalam batas tertentu, Asia.

WTI secara historik lebih diidentikkan dengan kumpulan minyak mentah AS. Tidak saja ia digunakan sebagai basis perdagangan saham future minyak di AS, ia juga menjadi patokan kunci (key benchmark) produksi AS.

‘Buntut yang mengibaskan anjingnya’

Semua ini terlihat baik dan resmi. Tapi harga minyak saat ini sesungguhnya ditentukan oleh suatu proses yang begitu keruh hingga hanya segelintir bank utama yang memperdagangkan minyak seperti Goldman Sachs atau Morgan Stanley yang punya gambaran tentang siapa yang membeli dan siapa yang menjual saham future minyak atau kontrak-kontrak turunannya (derivativ) yang kemudian menetapkan harga fisik minyak dalam dunia baru “minyak kertas” yang aneh ini.

Dengan perkembangan perdagangan derivativ internasional yang tak teregulasi dalam saham future minyak selama beberapa dekade belakangan atau lebih, terbukalah jalan bagi gelembung spekulatif harga minyak saat ini.

Sejak semakin populernya perdagangan saham future minyak dan kontrak-kontrak future minyak utama di London dan New York, kontrol harga minyak telah lepas dari tangan OPEC dan beralih ke Wall Street. Ini adalah kasus klasik “ekor yang mengibaskan anjingnya.”

Sebuah laporan Subkomite Permanen Senat AS untuk Investigasi yang berjudul “Peran Spekulasi Pasar Dalam Kenaikan Harga Minyak dan Gas,” mencatat, “…terdapat bukti-bukti substansial yang mendukung kesimpulan bahwa sejumlah besar spekulasi dalam pasar saat ini telah secara signifikan meningkatkan harga-harga.”

Apa yang didokumentasikan oleh komite Senat dalam laporan tersebut adalah bahwa dalam regulasi Pemerintah AS terhadap perdagangan saham turunan minyak terdapat celah menganga yang begitu lebar hingga segerombolan gajah dapat berjalan melaluinya. Sepertinya, inilah yang mereka telah lakukan dalam membumbungkan harga minyak hingga menembus atap dalam beberapa bulan terakhir.

Laporan Senat tersebut diabaikan oleh media dan Kongres.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa Komisi Perdagangan Saham Future Komoditas (CFTC), suatu regulator finansial saham future, telah diberi mandat oleh Kongres untuk memastikan bahwa harga pasar saham future mencerminkan hukum persediaan dan permintaan bukannya praktek manipulasi atau spekulasi yang eksesif. Akta Pertukaran Komoditas AS (CEA) menyatakan, “Spekulasi yang eksesif dalam komoditas apapun dalam kontrak penjualan komoditas yang bersangkutan untuk dihadirkan di masa depan … yang menyebabkan fluktuasi mendadak dan tak beralasan atau perubahan yang tak dapat dijamin terhadap harga-harga komoditas tersebut, merupakan suatu beban yang tak pantas dan tak perlu dalam aktivitas komersial antar negara-bagian terhadap komoditas yang bersangkutan.”

Lebih jauh lagi, CEA mengarahkan CFTC untuk mendirikan semacam batas-batas perdagangan “yang oleh Komisi dinilai perlu untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah beban-beban tersebut.” Di mana CFTC sekarang ketika kita membutuhkan batasan-batasan tersebut?

Mereka tampaknya dengan sengaja meninggalkan mandat dan tanggung-jawabnya dalam mengawasi komoditas dagang terpenting di dunia, minyak.

Enron yang tertawa terakhir…

Sebagaimana dicatat oleh laporan Senat AS tersebut…

“Hingga akhir-akhir ini, saham future energi AS diperdagangkan secara eksklusif dalam pertukaran teregulasi dalam Amerika Serikat, seperti NYMEX, yang berada di bawah pengawasan ekstensif CFTC, termasuk di dalamnya pengawasan berkelanjutan untuk mendeteksi dan mencegah manipulasi harga atau pemalsuan. Walau demikian, dalam beberapa tahun belakangan ini terjadi pertumbuhan besar-besaran dalam perdagangan kontrak yang terlihat dan terstruktur persis seperti kontrak saham future, tapi yang diperdagangkan dalam pasar-pasar elektronik OTC (over the counter) yang tak diregulasi. Karena kemiripannya dengan kontrak-kontrak future mereka seringkali disebut “kembaran saham future.” (futures look-alikes)

Satu-satunya perbedaan praktis antara kontrak kembaran saham future dan kontrak saham future adalah bahwa yang kembaran diperdagangkan dalam pasar-pasar yang tak diregulasi sementara saham future diperdagangkan dalam pertukaran yang teregulasi. Perdagangan komoditas energi oleh firma-firma besar dalam pertukaran elektronik OTC berada di luar pengawasan CFTC berkat suatu aturan yang dimasukkan atas perintah Enron dan pedagang energi besar lainnya ke dalam Akta Modernisasi Saham Future Komoditas tahun 2000 saat jam-jam penutupan Kongres ke 106.

Dampaknya terhadap pengawasan pasar sangatlah substansial. Pedagang saham di NYMEX, contohnya, diharuskan menyimpan catatan semua perdagangannya dan melaporkan perdagangannya yang besar terhadap CFTC. Laporan Pedagang Saham Besar ini, bersama-sama dengan data perdagangan saham harian yang memberikan informasi harga dan volume, merupakan alat utama CFTC untuk mengukur tingkat spekulasi di pasar dan mendeteksi, mencegah, dan menindak manipulasi harga. Ketua CFTC Reuben Jeffrey baru-baru ini menyatakan: “Sistem informasi Pedagang Saham Besar yang dimiliki Komisi ini merupakan terobosan baru (cornerstone) dalam program pengawasan kami dan mampu mendeteksi posisi-posisi terkonsentrasi dan terkoordinir yang dapat digunakan oleh satu atau lebih pedagang saham dalam percobaan manipulasi.”

Kontras dengan perdagangan yang dilakukan di NYMEX, perdagangan dalam pertukaran elektronik OTC yang tak diregulasi tidak diharuskan menyimpan catatan atau menyerahkan Laporan Pedagang Saham Besar kepada CFTC, dan perdagangan ini berada di luar pengawasan CFTC. Kontras dengan perdagangan yang dilakukan dalam pertukaran saham future yang teregulasi, tidak ada batas terhadap jumlah kontrak yang dapat dimiliki seorang spekulator dalam pertukaran elektronik OTC yang tak teregulasi, tidak ada pengawasan perdagangan oleh pusat pertukaran itu sendiri, dan tidak ada pelaporan jumlah kontrak-kontrak amat besar (“kepentingan terbuka”) di penutupan hari.

Maka, sepertinya untuk memastikan dibukanya jalan yang begitu lebar terhadap potensi manipulasi pasar harga minyak, pada Januari 2006, CFTC di bawah pemerintahan Bush memperbolehkan Intercontinental Exchange (ICE), operator pertukaran energi elektronik terkemuka, menggunakan terminal perdagangannya di Amerika Serikat untuk perdagangan saham future minyak mentah AS dalam pertukaran saham future ICE di London – disebut “ICE Futures.”

Sebelumnya, pertukaran ICE Futures London hanya memperdagangakan komoditas energi Eropa – minyak mentah Brent dan gas alam Inggris Raya. Sebagai pasar saham future Inggris Raya, pertukaran ICE Futures diregulasi hanya oleh Otoritas Layanan Finansial Inggris Raya. Pada 1999, pusat pertukaran London memperoleh ijin CFTC untuk memasang terminal komputer di Amerika Serikat untuk membolehkan pedagang saham di New York dan kota-kota AS lainnya memperdagangkan komoditas energi di Eropa melalui pertukaran ICE.

Previously, the ICE Futures exchange in London had traded only in European energy commodities – Brent crude oil and United Kingdom natural gas. As a United Kingdom futures market, the ICE Futures exchange is regulated solely by the UK Financial Services Authority. In 1999, the London exchange obtained the CFTC’s permission to install computer terminals in the United States to permit traders in New York and other US cities to trade European energy commodities through the ICE exchange.

CFTC membuka pintu.

Kemudian, pada Januari 2006, ICE Futures di London mulai memperdagangkan kontrak saham future minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), sejenis minyak mentah yang diproduksi dan dihadirkan di Amerika Serikat. ICE Futures juga memberitahukan CFTC bahwa ia akan memperbolehkan pedagang saham di Amerika Serikat menggunakan terminal ICE di Amerika Serikat untuk memperdagangkan kontrak WTI barunya pada pertukaran ICE Futures di London. ICE Futures pun membolehkan pedagang saham di Amerika Serikat memperdagangkan saham-saham future bensin AS dan minyak penghangat dalam pertukaran ICE Futures di London.

Meskipun pedagang saham AS menggunakan terminal dagang di Amerika Serikat untuk memperdagangkan kontrak saham future terhadap minyak, bensin, dan pemanas di AS, CFTC hingga kini menolak memasukkan perdagangan kontrak tersebut dalam yurisdiksinya.

Tiap orang di dalam Amerika Serikat yang hendak memperdagangkan komoditas energi kunci AS – saham future minyak mentah, bensin, dan minyak penghangat AS – mampu menghindari semua pengawasan pasar AS atau pelaporan persyaratannya dengan memutar perdagangannya melalui pertukaran ICE Futures di London, bukannya NYMEX di New York.

Tidakkah itu elegan? Regulator saham energi Pemerintah AS, CFTC membuka jalan bagi spekulasi saham future minyak saat ini yang tak diregulasi dan sangat keruh. Mungkin kebetulan saja pejabat CEO di NYMEX, James Newsome, yang juga duduk dalam Pusat Pertukaran Dubai, merupakan mantan kepala CFTC AS. Di Washington pintu berputar dengan mudah antara posisi jabatan swasta dan pemerintah.

Sekilas harga saham future Brent dan WTI sejak Januari 2006 mengindikasikan korelasi yang luar biasa antara meroketnya harga minyak dan perdagangan saham future minyak di ICE yang tak diregulasi dalam pasar AS. Camkanlah bahwa ICE Futures di London dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan AS yang bermarkas di Atlanta Georgia.

Pada Janurai 2006, ketika CFTC memberikan pengecualian terhadap ICE Futures, harga minyak diperdagangkan di kisaran $59-60 per barel. Kini sekitar dua tahun kemudian kita melihat harga menyentuh $120 dan kecenderungannya naik. Ini bulan masalah OPEC, ini adalah masalah regulasi Pemerintah AS yang dengan jahat menutup mata.

Dengan tak mengharuskan ICE memasukkan laporan harian mengenai perdagangan komoditas energi yang besar, ia tak mampu mendeteksi dan mengurangi manipulasi harga. Sebagaimana dicatat oleh laporan Senat “Kemampuan CFTC untuk mendeteksi dan mengurangi manipulasi harga menderita jurang-jurang informasi yang kritis, karena pedagang saham dalam pertukaran elektronik OTC dan ICE Futures di London saat ini berada di luar persyaratan pelaporan CFTC. Laporan pedagang besar juga merupakan hal penting dalam menganalisa efek spekulasi dalam harga-harga energi.”

Laporan tersebut menambahkan, “Laporan ICE kepada Komisi Pertukaran dan Sekuritas dan bukti-bukti lain menunjukkan bahwa pertukaran elektronik secara langsung berfungsi menetapkan harga – maka mempengaruhi harga energi AS – dalam pasar uang kas (cash market) untuk komoditas energi yang diperdagangkan dalam pertukaran tersebut.”

Pengelola investasi global (hedge funds) dan bank mendongkrak harga minyak

Dalam kenaikan harga minyak secara tetap akhir-akhir ini, institusi finansial besar, pengelola investasi global, investasi dana pensiun, dan investor lainnya telah mengucurkan milyaran dolar ke dalam pasar komoditas energi dan mencoba mengambil keuntungan dari perubahan harga atau mengontrol perubahan harga. Kebanyakan investasi tambahan ini bukan berasal dari produsen atau konsumen komoditas ini, tapi dari spekulator yang mencari keuntungan dari perubahan harga. CFTC mendefinisikan spekulator sebagai seseorang yang “tidak memproduksi atau menggunakan komoditas, tapi meresikokan modalnya sendiri dalam perdagangan saham future komoditas dengan harapan mengambil untung dari perubahan harga.”

Pembelian besar-besaran kontrak saham future minyak mentah oleh spekulator telah, sebagai dampaknya, menciptakan tambahan permintaan terhadap minyak, mendongkrak harga minyak yang dihadirkan di masa depan. Dengan cara serupa tambahan permintaan terhadap kontrak untuk menghadirkan barel minyak secara fisik saat ini mendongkrak harga minyak di pasar spot. Sejauh pandangan pasar, permintaan satu barel minyak dari pembelian kontrak future oleh spekulator sama nyatanya dengan permintaan satu barel minyak dari kontrak future oleh penyuling atau pengguna petroleum lainnya.

Mungkin 60% harga minyak saat ini murni spekulasi

Goldman Sachs dan Morgan Stanely kini adalah dua firma dagang energi terkemuka di Amerika Serikat. Citigroup dan JP Morgan Chase adalah pemain utama dan mendanai beragam pengelola investasi global yang juga berspekulasi.

Pada Juni 2006, minyak yang diperdagangkan di pasar saham future dalam kisaran $60 per barel dan investigasi Senat memberikan estimasi sekitar $25 untuk murni spekulasi finansial. Seorang analis mengestimasikan pada Agustus 2005 bahwa tingkat invetaris minyak AS memberikan gambaran bahwa harga minyak mentah WTI seharusnya berada pada $25 per barel, dan bukannya $60.

Itu artinya kini setidaknya $50 hingga $60 dari harga satu barel minyak sebesar $115 adalah murni spekulasi oleh pengelola investasi global dan institusi finansial. Walau demikian, dengan tidak berubahnya equilibrium permintaan dan persediaan minyak global dalam beberapa bulan ke belakang di tengah ledakan peningkatan harga saham future minyak yang diperdagangkan di pertukaran NYMEX dan ICE di New York dan London, sepertinya sebanyak 60% dari harga minyak saat ini adalah murni spekulasi. Tidak ada yang tahu secara formal kecuali segelintir kecil bank pedagang energi di New York dan London dan tentunya mereka tidak akan berbicara.

Dengan membeli sejumlah banyak kontrak future, dan dengan demiian mendongkrak harga saham future ke tingkat yang bahkan lebih tinggi dari harga saat ini, para spekulator telah memberikan insentif finansial bagi perusahaan minyak untuk membeli lebih banyak minyak dan menyimpannya dalam penyimpanan. Sebuah penyulingan akan membeli lebih banyak minyak saat ini, bahkan dengan harga $115 per barel, bila harga saham future akan lebih tinggi lagi.

Sebagai akibatnya, dalam dua tahun terakhir inventaris minyak mentah secara tetap meningkat, menyebabkan inventaris minyak mentah AS saat ini tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Besarnya arus masuk investasi spekulatif ke dalam saham-saham future minyak telah mengakibatkan situasi di mana kita memiliki persediaan minyak mentah yang tinggi dan harga minyak mentah yang tinggi.

Bukti-bukti yang menarik menunjukkan bahwa faktor-faktor geopolitik, ekonomi, dan alami yang biasa disinggung tidak menjelaskan peningkatan harga energi baru baru ini sebagaimana terlihat dalam data aktual persediaan dan permintaan minyak. Walaupun permintaan secara signifikan meningkat selama beberapa tahun ini, persediaan pun meningkat.

Selama beberapa tahun terakhir produksi minyak mentah global meningkat seiring peningkatan permintaan; faktanya, selama periode ini persediaan global telah melampaui permintaan, menurut Departemen Energi AS. Administrasi Informasi Energi (EIA) di bawah Departemen Energi AS baru-baru ini meramalkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan kapasitas surplus produksi global akan terus meningkat antara 3 hingga 5 juta barel per hari hingga 2010, dengan demikian “secara substansial menebalkan bantal kapasitas surplus.”

Hubungan Dolar dan Minyak

Strategi spekulasi umum di tengah menurunnya ekonomi AS dan jatuhnya mata uang dolar AS adalah para spekulator dan pengelola dana investasi yang haus akan investasi yang lebih menguntungkan di tengah bencana sekuritisasi (securitization) akan mengambil posisi saham future dengan menjual dolar “pendek” [dalam waktu dekat] dan minyak “panjang” [dalam jangka panjang].

Bagi para pengelola dana pensiun dan bank-bank besar di AS dan Uni Eropa yang haus akan profit menyusul runtuhnya pendapatan mereka sejak Agustus 2007 dan krisis perumahan AS, minyak adalah salah satu cara terbaik mendapatkan keuntungan spekulatif yang besar. Latar belakang yang mendukung gelembung harga minyak saat ini adalah pergolakan berkepanjangan di Timur Tengah, Sudan, Venezuela dan Pakistan dan permintaan minyak secara kuat dari Cina dan kebanyakan bagian dunia lain selain AS. Spekulator berdagang berdasarkan desas desus, bukannya fakta.

Kemudian, ketika perusahaan dan penyulingan minyak besar di Amerika Utara dan negeri-negeri Uni Eropa mulai menimbun minyak, persediaan terlihat semakin tipis sehingga memberikan latar belakang yang mendukung harga saat ini

Karena pasar-pasar energi lewat perdagangan langsung (OTC) dan ICE Futures di London tidak diregulasi, tidak ada angka yang pasti dan dapat dipercaya tentang total nilai dolar yang dibelanjakan dalam investasi komoditas energi baru-baru ini, tapi estimasinya secara konsisten berada di kisaran puluhan milyar dolar.

Meningkatnya kepentingan spekulatif terhadap komoditas juga dilihat sebagai meningkatnya popularitas pengelola dana index komoditas (commodity index funds), yakni dana investasi yang harganya terkait dengan serangkaian ragam saham future komoditas. Goldman Sachs memberikan estimasi bahwa investasi dana pensiun (pension funds) dan reksa dana (mutual funds) telah menginvestasikan total jumlah sekitar $85 milyar dalam dana index komoditas; dan investasi tersebut dalam indexnya sendiri, Index Komoditas Goldman Sachs (GSCI), telah berlipat tiga selama beberapa tahun terakhir. Perlu dicatat juga bahwa Sekretaris Bendahara AS, Henry Paulson, adalah mantan Ketua Goldman Sachs.

——–

F. William Engdahl tergabung dalam Centre for Research on Globalization (CRG) dan penulis buku A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: